Pencabutan larangan terbang maskapai Indonesia ke Eropa

Kajian Bulan Juni

Pada kamis 14 Juni 2018, Uni Eropa resmi mencabut larangan terbang ke Eropa untuk semua maskapai penerbangan Indonesia. Pencabutan tersebut berdasarkan pertimbangan bagi Uni Eropa dan mengeluarkan Indonesia dari EU Air Safety List atau daftar maskapai penerbangan yang tidak memenuhi standar keselamatan internasional. Uni Eropa menilai meningkatnya standar keselamatan maskapai penerbangan Indonesia.


Sebelum dicabut, sebanyak 62 maskapai penerbangan penumpang dan kargo dari Indonesia mendapat larangan terbang oleh komite keselamatan penerbangan Uni Eropa sejak 2007, yaitu:

  • Air Born Indonesia
  • Airfast
  • Air Pacific Utama
  • Air Maleo
  • Alda Trans Papua
  • Alfa Trans Dirgantara
  • AMA
  • Angkasa Super Service
  • Asia Link
  • ASI Pudjiastuti
  • Aviastar Mandiri
  • Batavia Air
  • Batik Air
  • Cardig Cargo
  • Citilink
  • Dabi Air Nusantara
  • Deraya Air Taxi
  • Derazona Air Service
  • Eastindo
  • Elang Lintas Indonesia
  • Elang Nusantara Air
  • Enggang Air Service
  • Ersa Eastern Aviation
  • Garuda Indonesia
  • Gatari Air Service
  • Hevilift Aviation
  • Indonesia Air Asia Extra
  • Indonesia Air Transport
  • Intan Angkasa Air Service
  • Jayawijaya Dirgantara
  • Johnlin Air Transport
  • Kalstar Aviation
  • Kartika Airlines
  • Komalia Indonesia
  • Kura-Kutra Aviation
  • Lion Air
  • Mandala Air
  • Marta Buana Abadi
  • Matthew Air Nusantara
  • Mimika Air
  • My Indo Airlanes
  • NAM Air
  • National Utility Helicopter
  • Nusantara Air charter
  • Pegasus Air Service
  • Pelita Air Service
  • Penerbangan Angkasa Semesta
  • Pura Wisata Baruna
  • Premi Air
  • Republik Express
  • Riau Airlanes
  • Sayap Garuda Indah
  • SMAC
  • Spirit Aviation Sentosa
  • Sriwijaya Air
  • Surya Air
  • Transnusa Aviation Mandiri
  • Transwisata Prima Aviation
  • Travel Express Aviation Service
  • Unindo
  • Weststar Aviation Indonesia
  • Wing Abadi Airlines


Setelah seluruh maskapai dilarang, pemerintah bersama maskapai secara bertahap meningkatkan standar keselamatan dan upaya tersebut dapat membuat Uni Eropa pada 2009 mencabut larangan terbang bagi beberapa maskapai, yaitu:

  • Garuda Indonesia
  • Mandala Air
  • Airfast
  • Premi Air
Pada 2010, pencabutan larangan terbang dilanjutkan terhadap maskapai:
  • Batavia Air
  • Indonesia Air Asia
Pada 2011, pencabutan larangan terbang dilanjutkan terhadap maskapai:
  • Air Maleo
  • Asia Link
  • Cardig Cargo
  • Republik Express
Pada 2016, pencabutan larangan terbang dilanjutkan terhadap maskapai:
  • Batik Air
  • Citilink
  • Lion Air


Beberapa dampak mungkin terjadi dari pencabutan dari Uni Eropa terhadap maskapai Indonesia:

  • Mendorong lebih banyak investasi masuk ke Indonesia
  • Penerbangan Indonesia masuk jajaran elite dunia
  • Maskapai Indonesia dipercaya dunia
  • Bisnis penerbangan di Indonesia tumbuh

Setelah pencabutan seluruh maskapai Indonesia, pihak-pihak yang terkait mempunyai tantangan besar untuk mengembangkan dan bersaing dengan maskapai dari negara lain untuk merebut pasar penerbangan internasional.




Dalam komparasi hasil yang dikeluarkan oleh Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP), keselamatan penerbangan Indonesia berada di atas rata-rata global. Namun pada tingkat Asia Tenggara, Indonesia kalah atau berada di bawah negara Singapura.
Maskapai penerbangan Indonesia mempunyai tantangan besar untuk bersaing dengan maskapai dengan negara lain. Bahkan di tingkat Asia Tenggara, Indonesia harus berusaha lebih keras agar dapat menyamai maskapai dari Singapura.



Bandara internasional Soekarno-Hatta berada pada peringkat tertinggi di tingkat Asia Tenggara bahkan mengalahkan bandara Changi dari Singapura berdasarkan kategori jumlah keberangkatan penumpang, dan mengalami perubahan sebesar 8,3% dari tahun 2016.
Dengan data tersebut dapat diketahui besarnya potensi penerbangan di Indonesia, tapi besarnya potensi harus dibarengi dengan usaha yang lebih keras agar maskapai Indonesia dapat bersaing.


Beberapa upaya agar maskapai penerbangan Indonesia dapat bersaing dengan maskapai negara lain:

  • Pemerintah sebagai regulator agar terus menjaga atau meningkatkan kualitas penerbangan Indonesia
  • Meningkatkatkan on time performance
  • Meningkatkan level pelayanan dan keamanan
  • Dalam segi tiket lebih kompetitif, armada selalu di update dan kenyamana tetap dipertahankan bahkan ditingkatkan
  • Mengevaluasi volume WNI dan WNA yang ke Indonesia dan yang keluar eropa, pemerintah juga membuat rute baru yang belum diekspansi oleh maskapai luar dan mempersiapkan infrastruktur yang menunjang

Sumber:

  • https://ekonomi.kompas.com/read/2018/04/11/100300926/bandara-soekarno-hatta-peringkat-ke-17-bandara-tersibuk-di-dunia
  • https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/04/10/peringkat-terbaru-bandara-bandara-tersibuk-di-dunia
  • https://economy.okezone.com/read/2017/11/23/320/1819113/standar-keamanan-membaik-maskapai-nasional-bisa-bersaing-di-eropa
  • http://travel.tribunnews.com/2017/10/31/rute-eropa-tercepat-dari-indonesia-garuda-indonesia-resmikan-penerbangan-langsung-jakarta-london
  • https://www.google.co.id/amp/s/ekbis.sindonews.com/newsread/1296871/34/borong-pesawat-lion-air-kuasai-asia-pasifik-1523410119
  • https://m.detik.com/news/berita/4074312/eropa-cabut-larangan-terbang-jokowi-ini-penantian-11-tahun
  • http://www.beritasatu.com/bisnis/17994-ekspansi-maskapai-terkendala-infrastruktur-dan-sdm.html

Eccents 2018 | Pencabutan Larangan Terbang Maskapai Indonesia ke Eropa