Megaproyek 35.000 Megawatt

Kajian Bulan Mei

Tujuan Pemerintahan di bawah komando Presiden Joko Widodo tertuang dalam Nawacita Presiden Joko Widodo. Salah satu dari wujud nawacita tersebut yakni kemandirian energi. Kemandirian energi sendiri tersirat dalam Nawacita Presiden Joko Widodo yang ke-6 dan ke-7. Nawacita tersebut berbunyi “Meningkatkan Produktivitas Rakyat dan Daya Saing di Pasar Internasional“ dan “Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Dengan Menggerakkan Sektor-Sektor Strategis Ekonomi Domestik“. Untuk mewujudkan Nawacitanya Presiden Joko Widodo membuat program pembangunan kemandirian energi yakni dengan membangun Megaproyek 35.000 Megawatt.


Proyek 35.000 Megawatt ini menelan biaya sebesar 1.189 triliun rupiah. Pemerintah tidak cukup dana untuk membangun megaproyek ini, sehingga pemerintah akhirnya melelang kepada investor lokal maupun asing yang ingin mendanai megaproyek ini. Sudirman Said Menteri ESDM yang terhadulu mengatakan bahwa proyek ini terdiri atas pembangunan pembangkit listrik baru, transmisi, gardu induk, trafo hingga pipa panjang.


Untuk skema pendanaan megaproyek ini PT PLN mendapat pinjaman dana dari World Bank sebesar 4 milliar dolar Amerika. Selain dari World Bank, PLN juga mendapat support dana sebagai tambahan modal kerja dari 4 bank BUMN yaitu Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN sebesar 20 triliun rupiah. PLN juga memanfaatkan lembaga–lembaga keuangan melalui skema ECA (Export Credit Agency).




Sampai sekarang menurut data Kementrian ESDM yang terbaru hingga Maret 2018 yakni yang sudah beroperasi sebanyak 1.504 Megawatt, tahap konstruksi sebesar 16.994 Megawatt, tahap belum konstruksi 12.693 Megawatt, pengadaan 3.414 Megawatt, dan perencanaan 1.195 Megawatt. Selain itu, Pemerintah melalui Kementrian ESDM ingin mengejar rasio elektrifikasi nasional yang tertuang dalam RPJMN pada tahun 2019 rasio elektrifikasi mencapai 96.6 %, tetapi Kementrian ESDM sendiri mempunyai target rasio elektrifikasi 99.9% pada tahun 2019.



Namun nyatanya megaproyek ini banyak menemui kendala teknis berikut beberapa kendalanya:

  • PLN sampai detik ini belum menyerahkan revisi Rencana Umum Pembangkit Tenaga Listrik (RUPTL) kepada Kementerian ESDM. Akibatnya, total ada 16.000 MW pembangkit yang lelangnya terhambat. Padahal harus segera dilelang agar proyek 35.000 MW cepat terealisasi.
  • PLN tanpa alasan jelas membatalkan lelang pembangunan PLTU Jawa 5 berkapasitas 2x1.000 MW di Serang, Jawa Barat. Pembangkit tersebut merupakan salah satu pembangkit terbesar dalam proyek 35.000 MW. Pembatalan lelang dipastikan membuat jadwal operasi PLTU Jawa 5 molor.
  • PLN membuat aturan sendiri yang bertentangan dengan aturan pemerintah soal tarif listrik mikro hidro. Langkah PLN ini membuat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dalam proyek 35.000 MW terhambat.


Hambatan yang lain yakni untuk mencapai rasio elektrifikasi nasional yang tinggi perlu ditunjang dengan rasio elektrifikasi yang mumpuni dari setiap provinsi, menurut Kementrian ESDM ada 2 provinsi di Indonesia yang mempunyai rasio elektrifikasi yang masih dibawah 70% yakni provinsi Nusa Tenggara Timur dan provinsi Papua, masing-masing sebesar 61.06% dan 62.10%. Berikut beberapa sebaran proyek 35000 Megawatt menurut provinsi sebagai berikut :

  1. Sumatera: PLN membangun pembangkit 1.100 MW
    • Swasta membangun pembangkit: 8.900 MW
    • Transmisi sepanjang: 18.729 Kms
    • Gardu Induk: 35.521 MVA
  2. Jawa-Bali: PLN membangun pembangkit 5.000 MW
    • Swasta: 13.697 MW
    • Transmisi: 9.186 Kms
    • Gardu Induk: 66.263 MVA
  3. Kalimantan: PLN membangun pembangkit 900 MW
    • Swasta: 1.735 MW
    • Transmisi: 5.604 Kms
    • Gardu Induk: 3.500 MVA
  4. Sulawesi: PLN membangun pembangkit 2.000 MW
    • Swasta: 1.470 MW
    • Transmisi: 5.276 Kms
    • Gardu Induk: 4.390 MVA
  5. Maluku: PLN membangun pembangkit 260 MW
    • Swasta: 12 MW
    • Transmisi: 653 Kms
    • Gardu Induk: 620 MVA
  6. Nusa Tenggara: PLN membangun pembangkit 670 MW
    • Swasta: tidak ada
    • Transmisi: 2.347 Kms
    • Gardu Induk: 1.410 MVA
  7. Papua: PLN membangun pembangkit 220 MW
    • Swasta: tidak ada
    • Transmisi: 364 Kms
    • Gardu Induk: 460 MVA



Terlihat bahwa 2 provinsi dengan rasio elektrifikasi yang rendah jarang, kurang tersentuh pembangunan jaringan listrik di 2 provinsi tersebut kurang tersentuh akibat kondisi geografis pada kedua provinsi ini sangat berbeda dengan yang lain, Papua dengan kontur pegununggan dan hutan yang lebat, sedangkan Nusa Tenggara Timur dengan kontur yang kering dan panas. Sehingga akses menuju 2 provinsi tersebut sangat sulit, akses yang sulit menyebabkan 2 provinsi tersebut kurang tersentuh oleh pemerintah maupun investor. Selain hambatan teknis dan geografis, hambatan lain yang dialami oleh pembangunan megaproyek ini yakni hambatan sosial dari masyarakat sendiri. Ada beberapa masyarakat yang cenderung mempertahankan kearifan lokal budaya leluhur mereka, sehingga mereka sulit sekali menerima suatu modernisasi yakni dengan adanya listrik.


Berikut beberapa solusi agar megaproyek ini tetap berjalan sebagai mana mestinya dan bias merubah wajah Indonesia yang lebih modern lagi.
Bagi pemerintah:

  • Sebaiknya berfokus kepada 2 Provinsi yakni Nusa Tenggara Timur dan Papua
  • Menggunakan EBT (Energi Baru Terbarukan) sebagaimana tertuang dalam RKP 2018 dan RPJMN 2015-2019
  • Membangun infrastuktur pada 2 provinsi yakni Nusa Tenggara Timur dan Papua untuk memudahkan akses pembangunan dan menarik investor
  • Mengurangi subsidi listrik untuk golongan rumah tangga yang mampu dan mengalihkan kepada 2 provinsi tersebut
  • Menciptakan “win-win solution" kepada perusahaan–perusahaan yang beroperasi di Nusa Tenggara Timur dan Papua agar dapat berkontribusi untuk membangun jaringan listrik di 2 dearah tersebut

Bagi masyarakat:
  • Masyarakat perlu untuk mengembangkan sumber daya alam lokal yang dapat digunakan sebagai pembangkit listrik, seperti panas matahari dan angin
  • Dibentuk Lembaga Swadaya Masyarakat dimana LSM tersebut dapat mengadakan suatu event daerah sehingga dapat menarik investor untuk menanamkan modal untuk daerah tersebut yang dapat dipergunakan untuk membangun jaringan listrik

Eccents 2018 | Megaproyek 35.000 Megawatt